Februari 2009

Guru Pertama Bahasa Arab


Di usia SD saya punya seorang sahabat, dekat. Dialah, Agus Fathul Karim bin KH. Badrus Sholeh Arif. Karena sekelas, sejak kelas 1 SD. Kami sering menghabiskan waktu pulang sekolah hingga sore bersama Agung Nugroho (juga teman sekelas) menjelajah Purwoasri dan sekitarnya.
Kadang di kali Brantas, kadang mandi di sungai kanal. Tapi juga kadang nongkrong di stasiun Purwoasri. Kalau zaman sekarang kami adalah Bocah Petualang. Ya... begitulah kira-kira.

Satu hari Agus Fathul Karim kecelakaan mobil di Ngawi bersama keluarganya. Dia dirawat di RSUD Pare. Beberapa bulan kemudian dia sudah dibawa pulang ke rumahnya Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri. Kakaknya, Mbak Lilik Nur Kholida yang sebelumnya sudah tahu bahwa kami adalah sahabat dekat, maka kami dimohon untuk menemani hari-hari Gus Karim di rumah. Jadilah saya dan Agung bermalam di rumah Gus Karim.

Dan sayapun sering bermain di rumah besar tingkat 2 itu. Satu hari ketika kakaknya Gus Ahmad Dain yang kuliah di Yogyakarta pulang. Saya dan Gus Karim diajari bahasa Arab di rumah itu. Jadilah beliau yang sekarang KH. Drs. Ahmad Dain guru pertama saya dalam pelajaran Bahasa Arab. Ternyata bahasa Arab mengasikkan. Di tahun-tahun berikutnya saya mengikuti pengajian beliau setelah beliau tidak lagi kembali ke Yogyakarta karena telah lulus kuliah.

Terima kasih Ustadz, bahasa Arab yang Panjenengan ajarkan dulu kini benar-benar bermanfaat. Semoga menjadi amal jariyah. Amin.

Desa Terindah di Dunia, Purwoasri


Bismillaahir rohmaanir rohiim
Mengawali tulisan dalam blog ini akan saya perkenalkan dulu siapa saya. Perkenalkan nama saya Muhammad. Lahir di Kediri, 18 Maret 1974. Jalan 35 tahun yang lalu.

Saya anak ke 2 dari 5 bersaudara. Dari pasangan Bp. H. Toha , S.Ag dan Ibu Suyani. Saat blog ini saya tulis, saya berstatus PENGHUNI MASJID di Masjid Nur Rohman Sambirejo RT4 RW9 Kadipiro Banjarsari Surakarta 57136 (SOLO). Bersama istri Eni Cahyaningsih dan kedua anak saya yang lucu-lucu, Muhammad A'la Maududi dan Malika Lathifa Azzahra kami isi hari-hari dengan banyak bersyukur sebagai penghuni masjid, karena itulah kunci kebahagiaan sesungguhnya.

Desa Purwoasri adalah desa terindah yang pernah saya jumpai. Di sana, masa kanak-kanak saya berlalu dengan penuh kenangan yang tak mungkin pernah saya lupa dalam hidup yang hanya sekali ini. Jalan aspal jurusan Surabaya Trenggalek yang selalu ramai. Sungai Brantas meliuk indah mengalir, di sisi tangkis hijau memanjang. Di sebelah timur ada sungai yang saya tahu namanya sejak kecil adalah KANAL dan sawah luas membentang. Satu lagi keindahan yang terus menghias setiap kenangan yang terlintas dalam pikiran dan lamunan saya, sebuah pondok pesantren yang telah mengukir hari-hari bersejarah dalam hidup saya. Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri.

Terima kasih Ibu dan Ayah, telah mengajak saya menghabiskan hari-hari indah dan menyenangkan di tempat paling menarik di dunia. PURWOASRI.