Agustus 2009

Pondok Al Hikmah Strategis, Dekat Stasiun


Satu hari yang aku lupa itu kapan. Aku pernah membaca tentang sejarah Pondok Pesantren Purwoasri dari buku. Dalam buku itu disebutkan bahwa pemilihan tempat pendirian pondok pesantren Al Hikmah Purwoasri adalah sangat strategis. Salah satunya karena dekat dengan stasiun kereta api. Media transportasi yang telah ada saat itu.

Secara pribadi stasiun ini telah menyimpan banyak kenangan. Kenangan bermain bersama teman-teman. Termasuk juga saat bermain pulang sekolah bersama Gus Karim, putra bungsu KH Badrus Sholeh Arif.

Kami sering menghabiskan waktu nongkrong di stasiun tersebut hingga sore. Dan kalau sore sudah menjelang, biasanya Gus Karim dijemput oleh salah seorang santri pondok. Namanya mas Suja', untuk segera pulang. Ya, mas Suja' adalah orang kepercayaan Kyai selain mas Ali. Mas Ali juga orang yang setia sebagai kepercayaan Kyai. Dengan sepeda "unta tua" mas Ali tekun mengambil ampas tahu untuk makanan kambing di peternakan Kyai.

Kembali ke stasiun Purwoasri. Stasiun ini terletak kurang lebih 100 meter ke arah timur dari Puskesmas Purwoasri. Orang-orang Purwoasri dan sekitar yang ingin ke Surabaya, atau ke arah barat seperti Solo dan seterusnya, atau ke arah timur, Malang, mereka bisa menikmati transportasi tua yang sekarang sudah mulai berbenah ini.

Bagaimana dengan Anda, Apakah kenganan manis Anda lalui di stasiun ini?

Musholla di Bumi Perkemahan Mranggen


Musholla di bumi perkemahan Mranggen Purwoasri, kini sudah ngejreng. Tidak seperti dulu. Tahun 1984 hingga 1986 saat aku sering diikutkan sebagai anggota Pramuka dan sering kemah di sana, Musholla tersebut masih kumuh. Kadang bak wudhunya kosong. Namun sekarang sudah sip... deh.
Di sebelah barat Musholla, bangunan tua peninggalan Belanda yang masih kokoh tersebut juga masih digunakan. Saat gambar ini kuambil pada Juni 2009, nampak kegiatan beberapa truk dengan muatan tebu. Ya... gitu deh, mau dibikin gula.
Beberapa pohon peneduh dulu waktu berkemah, sampai sekarang juga masih kokoh berdiri. Beberapa bahkan menjadi pohon raksasa. Semoga tetap seperti itu. Tumbuh terus bersama banyak kenangan indah masa kecil.

Terminal Purwoasri, Terminal Tersepi


Mau tahu terminal paling sepi, datanglah ke Purwoasri. Di selatan desa Purwoasri, tepatnya desa Mranggen, ada sebuah terminal. Sejak dibangun hingga kini, setahuku inilah terminal paling sepi di dunia.

Dulu terminal yang terletak di sisi barat jalan raya ini adalah lapangan sepak bola. Waktu aku masih sekolah di SDN Purwoasri I, tempat ini sering digunakan untuk upacara bendera hari-hari besar Nasional. Setelah jadi terminal, sekarang untuk upacara bendera agak jauh, yaitu ke lapangan Tawang. Saat aku sekolah di MTsN Purwoasri, pak Imam Subakir, guru olahraga, sering mengajak kami untuk main sepak bola di lapangan yang sekarang sudah jadi terminal ini.

Namun aku masih berbaik sangka terhadap siapapun yang membangun terminal tersebut. Ada kabar bahwa dekat terminal tersebut menuju ke arah barat menyeberangi sungai Brantas akan dibangun jembatan yang menghubungkan antara Mranggen dan sekitarnya dengan Trayang di seberang barat sungai.

Kemungkinan, setelah jembatan itu jadi, terminal ini tidak lagi sepi. Kapankah itu, I am sorry, I don't know. Satu hal yang pasti, jika itu terwujud. Beberapa tambangan sekitar akan gulung tikar, eh gulung perahu.

Kenangan Jatuh Sakit di Masa Kecil


Manusia biasa. Saat tertentu juga akan mengalami sakit. Tidak mungkin sehat terus-menerus. Demikian juga sebagian santri Pondok Al Hikmah yang saya tahu dulu kalau sakit, mereka berobat di Puskesmas Purwoasri ini. Sebuah Puskesmas yang sudah beroperasi sejak zaman Belanda. Di temboknya tertulis angka 1922.

Akupun juga begitu. Ada kenangan tentang Puskesmas ini. Dulu Bapak dan Ibu juga membawaku ke Puskesmas ini bila aku sakit. Selain itu kadang aku juga dibawa ke Puskesmas Papar.

Di Puskesmas ini, bekerja seorang yang aku sebut mantri. Namanya aku lupa. Kalau gak salah pak Joko. Putra beliau teman sekelasku di TK Perwanida. Waktu itu, ada rasa ngeri kalau ketemu dengan pak Joko. Takut nanti kalau disuntik. He he he.

Bagaimana dengan Anda. Anda punya kenangan juga tentang Puskesmas ini?

SDN Purwoasri 1, Kenanganku Tertinggal Disini


SDN Purwoasri 1. Disinilah 6 tahun masa kecil bahagia telah kulalui. Teman-teman boleh terus berganti seiring berpindahnya perantauan. Namun teman-teman SD, teman yang tak terlupakan sepanjang hidup. Tiap senin pagi upacara. Tiap Sabtu pagi bernyanyi bersama lagu wajib nasional di halaman depan sekolah. Selain itu, tiap pagi senam kesegaran jasmani. Instrumen senamnya akupun masih ingat. Ya... masih segar dalam ingatan. Ada Bu Syamsiyah. Guru kelas 1 yang mengajari a i dan u. Ada Bu Karjun yang pandai bahasa dan tulisan Jawa. Ada Bu Nik yang lumayan tegas dan disiplin. Ada Bu Yayuk dengan dua putra beliau yang lucu-lucu. Ada pak Syahir Ridwan yang jarang tersenyum. Namun sekali tersenyum dunia bagai pagi hari yang sejuk dengan kesegaran embun. Ada pak Pri yang mengajar IPA nya sungguh mengesankan. Polong-polongan. Dan yang tidak terlupa, ada Bu Kuni Masruhati dan Pak Baweh yang sabar dan Bu Siti serta Bu Esti yang pernah mendoakanku jadi seorang pujangga besar. Dan teman bermain sepak bola yang menyenangkan, Pak Budi yang dulu rambut beliau pernah tampil beda. Dikriting. Semua begitu membekas. Mengenang Panjenengan semua, membawaku dalam bait-bait do'a keabadian. Semoga jasa-jasa Panjenengan semua dalam mendidik, ditukar oleh yang Kuasa dengan balasan surga Nya yang tanpa tepi, amin. Teman-teman, pada jadi apa kamu sekarang. Semua bermula disini. Di sekolah penuh kenangan. SDN Purwoasri 1.

Kantor Pos Purwoasri, Tetap Eksis


Sebelum HP dan SMSnya menyebar ke berbagai belahan bumi termasuk Purwoasri, kantor Pos ini dulu ramai dikunjungi orang, temasuk para santri Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri.

Maklum, inilah dulu tempat yang memungkinkan seseorang bisa berkomunikasi ke dunia luar, walau hanya lewat surat. Ya… memang hanya itu dulu media untuk bisa berhubungan dengan dunia luar.

Kantor Pos yang elegan di sisi utara MAN Purwoasri ini masih asri dan tidak ada perubahan. Wujudnya sama persis seperti aku masih kecil dulu. Walaupun sekarang sudah tidak banyak orang kirim surat, namun kantor Pos ini tetap eksis. Masih banyak orang yang memanfaatkannya untuk jasa pengiriman barang.

Susupan, Kenangan Pecinta Tebu


Susupan. Demikianlah orang menyebutnya. Di jalan Pahlawan Purwoasri, tepatnya 100 meter timur pertigaan Kantor Kecamatan Purwoasri terdapat rel kereta api yang menghubungkan Kertosono dan Kediri. Karena jalan Pahlawan berada di bawah rel tersebut (nyusup) maka orang menyebutnya susupan.

Banyak cerita tentang susupan ini di masa kecilku. Kenangan itu masih tersisa, terutama saat tiap kali aku melintas di sana. Saat kelas 3 hingga 5 SD. Waktu itu tahun 1983-1985. Aku dan teman-teman sering mangkal di susupan ini. Di terowongan kecil sisi utara.

Wah… seru. Di terowongan itulah kami menunggu truk tebu dari arah timur. Jika musim panen tebu tiba, banyak truk melintas susupan menuju pabrik gula Kertosono. Karena susupan sempit dan agak menurun dari arah timur, truk-truk tersebut lebih sering berjalan lambat. Saat itulah kami sering minta tebu kepada pak sopir.

Jangan remehkan tebu jaman dulu. Dulu tebu besar-besar. Rasanya manis-manis. Nggak tahu sekarang kok sudah jarang kalau tidak boleh dibilang punah, tebu yang besar dan manis. Sekarang tebu kecil-kecil dan wow… keras.

Siapa lagi yang punya kenangan tentang susupan?

Foto untuk Seorang Teman


Foto di atas bagi banyak orang mungkin tanpa arti. Namun tidak bagi Yudi. Teman SDN Purwoasri 1, teman Diklat Pinru (Pendidikan dan Latihan Pimpinan Regu) di SDN Tawang, teman berkemah di Klampitan yang saat itu dia ditunjuk sebagai wakil pimpinan regu mendampingiku. Itu kenangan yang masih terus tersisa.

Hai... apa kabar Yud? Semoga kamu dan keluarga di Bali dalam keadaan sehat wal afiat. Bagaimana, surprise? Semoga foto di atas bisa menjadi obat kangenmu pada kampung halaman (Mlilir Purwoasri).

Semoga juga, foto itu bisa menjadi inspirasi banyak hal yang positif. Bahwa orang tua, keluarga, masa lalu dan hari ini adalah rejeki besar yang Allah berikan.

Selamat berkarya di Pulau Bali, semoga sukses menyertaimu. Amin.