November 2009

Jalan Raya Purwoasri


Jalan Raya Purwoasri. Jalan ini menghubungkan Kertosono di utara dan Kediri di Selatan. Lebih panjang lagi, jalan ini antara Surabaya dan Tulungagung.


Sebuah Foto untuk Seorang Teman



Foto rumah seorang teman. Di jalan Pahlawan Mlilir Purwoasri. Dulu aku sering bermain di rumah ini. Penghuninya adalah teman sekelasku, bahkan sebangku di MTsN Purwoasri.


Industri Tahu Purwodadi Purwoasri


Purwodadi Purwoasri adalah desa centra industri tahu. Makanan sederhana dengan protein tinggi ini tidak boleh dipandang remeh. Ade Ray, sang binaragawan, menyarankan jika ingin membentuk tubuh selain dengan berlatih, makanlah banyak protein, salah satunya "tahu".

Siang itu aku dan jagoan kecilku Muh A'la Maududi jalan-jalan. Kami sampai di tempat pembuatan tahu. Masa kecilku dulu juga sering main ke tempat ini. Saat itu tidak untuk membuat tahu. Tapi 'kami kecil' lebih sering ngobrol dan bersenda gurau di tempat pembuatan tahu itu. Dan sekarang, industri pembuatan tahu tersebut dipegang oleh Khoirul. Putra Pak De Su. Seorang pengusaha tahu sukses yang sudah lama kukenal.

Khoirul dewasa, seperti Khoirul kecilnya dulu. Orangnya gesit dan rajin. Saat aku dan A'la ke sana Khoirul masih tetap seperti dulu. Ramah dengan senyum yang mengembang bila bertemu dengan orang lain. Apalagi diriku, teman ngobrolnya.

Bagi A'la ini adalah kesempatan melihat
langsung lauk tahu yang selama ini lumayan sering ia makan. Termasuk juga aku. Di Solo ada tahu dengan olahan bacem. Tahu bacem ini bila dibakar luar biasa nikmat.

Foto untuk Seorang Teman


Tak ada kata-kata yang bisa mewakili foto ini dari diriku. Foto ini lebih dari seribu kata-kata untuk melukiskannya. Ditambah dengan sejuta kenangan dari yang pernah tinggal di rumah itu. Foto itu tak terkata-kata. Sebuah rumah kenangan di jalan Stasiun Purwoasri.


Jalan Tambangan Purwoasri


Tambangan, tempat penyeberangan penumpang melintas sungai Brantas. Purwoasri adalah wilayah pesisir sungai Brantas. Sungai Brantas menjadi batas antara wilayah Purwoasri di sebelah timur yang masuk kabupaten Kediri dengan Juwono di seberang barat yang masuk wilayah kabupaten Nganjuk.

Orang-orang dari Juwono dan sekitarnya yang memiliki kepentingan di Purwoasri bagi mereka jalan terdekat adalah dengan menyeberang sungai Brantas menggunakan perahu. Begitu juga sebaliknya dengan orang-orang Purwoasri dan sekitarnya yang ke arah barat.

Foto di atas adalah jalan Tambangan Purwoasri. Jalan tersebut aku yakin telah menjadi jalan sejarah. Walau jalan tersebut tidak masuk dalam buku sejarah. Jalan inilah yang telah dilewati banyak siswa dalam menuntut ilmu. Para pedagang dalam menjemput rizki untuk nafkah keluarga maupun untuk biaya sekolah putra-putri mereka tercinta. Dan boleh jadi jalan inilah yang telah mempertemukan banyak orang dengan pasangan hidup mereka yang mungkin saat ini sudah berkembang menjadi anak cucu.

Ya, jalan ini, di pagi hari memang ramai dengan para siswa yang akan menuju sekolah masing-masing. Juga para pedagang yang beraktifitas di Pasar Purwoasri yang tidak jauh dari situ. Para pegawai baik dari arah timur ke barat atau sebaliknya.

Jalan inipun merekam masa kecilku. Karena kurang dari 20 meter dari jalan ini, aku dilahirkan. Yes, I was born here, in Purwoasri. The most beautiful village in the world.

Play Station in Purwoasri


Ada rasa kasihan pada anak-anak zaman sekarang. Kasihan mereka, tidak mengalami indah dan bahagianya masa kecil dengan pengalaman langsung. Seperti yang kualami di masa lalu. Ya... itulah zaman. Zaman telah berubah.

Anak-anak sekarang tidak mengalami enaknya mandi di sungai bersama teman-teman. Sambil bernyanyi :

Mandi pagi tidak biasa
tidak mandi sudah biasa
Paling enak mandi di kali
Kali Brantas jernih sekali

Sungai makin keruh oleh polusi. Sungai makin dangkal dan tidak indah lagi. Penambang pasir liar ikut berperan pada perubahan ini. Hayo Pak, tanggung jawab.

Anak-anak sekarang tidak mengalami rasanya dag dig dug di dada. Saat memancing ikan di sungai dan umpan mulai ditarik oleh ikan. Rasa sensasinya luar biasa. Deg-degan. Ikan-ikan sekarang mulai jarang. Banyak orang pilih nyetrum ikan atau mengobati ikan sehingga ikan yang kecil-kecil ikut habis.

Anak-anak sekarang tidak mengalami meriahnya mengejar layang-layang putus. Bersama teman-teman mengejar layang-layang putus adalah peristiwa mengasyikkan yang hanya asyik dilakukan saat usia anak-anak. Saat layang-layang terkena angin ke utara, grudhug ke utara. Layang-layang ke selatan, grudhug ke selatan. Meriah, walau akhirnya tidak dapet layang-layang, tapi rasanya asyik. Apalagi kalau dapet. Wouw, pemenang. Ibu'... aku dapet layang-layang. Dan besoknya menjadi topik utama Breaking News cerita di sekolah.

Dan masih banyak lagi.

Anak-anak sekarang hanya duduk menikmati pengalaman imajinatif. Mereka mengalaminya tanpa bergerak dari duduk mereka. Mereka kemana-mana tapi tetap di tempat. Ya, mereka memang senang. Tapi mereka tidak mengalaminya langsung. Karena mereka terus terduduk di depan layar Play Station.

Di beberapa tempat di Purwoasri mulai menjamur Play Station. Mereka bermain dan harus membayar. Untuk sebuah rasa senang, harus membayar. Beda dengan dulu. Untuk bermain semuanya gratis. Allah menciptakan alam dan keindahannya yang lengkap. Untuk dijelajahi. Seperti para bocah petualang. He.. he.. he..

Satu hal yang pasti, permainan yang sesungguhnya yang dialami oleh seluruh indera seorang anak, akan terus berkesan, membekas sampai dewasa nanti. Dan itu yang kualami. Sebuah masa kecil yang bahagia. Terima kasih teman-teman. Terima kasih Bapak dan Ibu telah mengajakku menghabiskan masa kecil di tempat terindah di dunia. Purwoasri.

Pemancingan di Purwoasri


Anda hobby mancing? Jika anda sedang di Purwoasri dan punya hobby mancing, Anda bisa sempurnakan liburan Anda dengan memancing di Pemancingan ini.

Tepatnya di Desa Purwodadi RT1 RW1. Sebuah desa di sebelah utara desa Purwoasri. Keluar dari batas desa Purwoasri di bagian utara, 200 meter kemudian ada Pos 2. Di Pos 2 itu ada gang ke timur, masuk saja. Anda akan bertemu dengan musholla At Ta'awun. Di sebelah timur musholla itulah pemancingan yang lebaran kemarin (1430 H) masih baru berada.

Saat kesana bersama dengan bidadari kecilku Malika Lathifa Az Zahra dan jagoan kecilku Muhammad A'la Maududi, mereka begitu gembira. Senang melihat mereka bersuka cita di liburan lebaran saat itu. Bisa mengajak mereka jalan-jalan ke tempat yang belum mereka kunjungi.

Dalam daftar tempat-tempat yang akan kukunjungi, salah satunya adalah "Memancing di Sungai Amazon". Tentu saja memancing bersama mereka. Dan tentu saja bersama permaisuriku Eni Cahyaningsih.

SMP Negeri 1 Purwoasri, Sebagian Temanku Disini


Lulus dari SDN Purwoasri 1 adalah awal bagiku mulai kehilangan. Itulah hidup. Ada saat bertemu, ada saat berpisah. Teman-teman sekelas SD berpencar. Ada yang meneruskan ke MTsN Purwoasri, ada yang ke SMP Papar, ada juga yang ke SMP Negeri 1 Purwoasri.

Hanya satu teman yang tetap satu kelas denganku di MTsN Purwoasri. Dia adalah Ahmad Rifa'i (cucunya Bu De Sumini, pemilik warung nasi pecel dengan wedhang jahenya yang nikmat dan lezat, para santri pondok Al Hikmah sering menyebut beliau dengan mak Trek. Sebab banyak truk / trek yang berhenti di jalan raya tersebut untuk menikmati lezatnya pecel warung Bu De Sumini).

Seingatku yang meneruskan ke SMP ini adalah Didit Zakaria Arif, teman akrabku sejak dari Taman Kanak-Kanak Perwanida Purwoasri.

Sukses selalu teman-teman... semoga bahagia masa kecil kita bersama, tetap dalam kenangan indah. Dan akan menjadi nostalgia yang lebih indah saat kita bertemu lagi nanti. Amin.


Ada kenangan tersendiri aku dengan masjid Jami' Wonotengah ini.



Rujak Petis Super Purwoasri


Rasanya belum lengkap jika Anda singgah di Purwoasri dan belum merasakan lezatnya Rujak Petis Super Purwoasri. Rujak dengan cita rasa petis super ini adanya hanya di Purwoasri. Aku pernah merasakan di tempat-tempat lain. Namun tak senikmat Rujak Petis Super Purwoasri. Tepatnya di Purwodadi Purwoasri.

Lebaran kemarin benar-benar menyisakan banyak kenangan dan kesan luar biasa dalam hidupku. Bisa bertemu dan ngobrol banyak hal dengan Ibu dan Bapak. Bisa berakrab-akrab dengan Ibu dan Bapak mertua. Ketemu Saudara-saudara, teman dan menikmati keindahan Purwoasri dengan bersepeda. Sungguh pengalaman hidup luar biasa. Tidak ketinggalan bisa menikmati rujak terenak yang pernah ada. Rujak Petis Super Purwoasri.

Aroma yang paling dominan adalah petis. Petis Jawa Timur ini memang beda. Di Solo juga ada petis, namun tak seenak petis Jawa Timur. Petis enak ini kemudian dicampur dengan pisang Klutuk, timun, bayam yang sudah direbus, tahu dan tempe goreng, dengan sedikit trik dan pengalaman si pembuat, akan menghasilkan cita rasa masakan khas yang luar biasa.

Soalnya beda tangan beda rasanya. Di Purwoasri sendiri juga ada banyak warung yang menjual rujak seperti ini. Dulu yang terenak adalah yang di Tambangan Purwoasri. Aku, Gus Karim dan juga teman-teman yang lain sering menikmatinya disana. Tapi sekarang sudah tidak jual.

Satu-satunya tempat yang bisa kurekomendasikan sebagai tempat rujak petis spesial ini adalah di desa Purwodadi RW 1 dan di dusun Templek. Persisnya dimana? Begini saja, bila sudah sampai di Purwoasri, Anda hubungi 08164275787 nanti bisa diantar. Layanan diantar hanya berlaku kalau sedang musim liburan.

Hanya Kulakukan di Bulan Syawal


Pagi menjelang siang. Ahad, 8 Nopember 2009. Bidadari kecilku Malika Lathifa Az Zahra mengajakku bermain di Taman Kanak-Kanak Belakang Masjid Nur Rohman Sambirejo Kadipiro tempat kami tinggal sebagai penghuni masjid. Dia sering mengajakku bermain ke sana. Di sana banyak permainan, yang hanya patut dimainkan oleh anak balita seusianya. Bukan untukku.

Senin hingga Sabtu tak seperti hari Ahad. Di hari Ahad, aku bisa meluangkan banyak waktu untuk Bidadari Kecilku, Malika dan Jagoan Kecilku, Muhammad A'la Maududi. Anak-anak seusia mereka sama sepertiku dulu. Butuh kebersamaan dengan orang tua. Ibu atau bapaknya. Kenangan masa kecilku kadang sering kembali membaru setelah ada mereka berdua, anak-anakku. Buah cintaku dengan Eni Cahyaningsih.

Kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Dulu aku sering keluar pagi bersama Ibu. Tidak untuk jalan-jalan. Tapi untuk menghafal teks deklamasi. Pagi, memang waktu yang tepat untuk menghafal. Dan alhamdulillah, di saat tampil deklamasi aku sudah hafal.

Kenangan masa kecil dengan Bapak tak kalah menariknya. Bermain air dan mandi pagi di sungai Brantas, membuat layang-layang dan menerbangkannya bersama, membuat yoyo sendiri, memburu ular dan membuangnya dengan lemparan super ke sungai, wow sungguh kenangan manis. Dan masih banyak lagi.

Bersama teman-teman juga begitu. Masa kecilku tidak lepas dengan seorang teman yang paling dermawan. Dia adalah Agus Fathul Karim. Putra bungsu KH Badrus Sholeh Arif, pendiri pondok pesantren Al Hikmah Purwoasri Kediri. Masa kecil yang menyenangkan.

Kembali ke tempat bermain dengan bidadari kecilku. Di Taman Kanak-Kanak Kartika milik TNI AD itu ada beberapa pohon seri atau talok. Lumayan, buahnya banyak. Ifa ingin diambilkan buah itu. Akupun dengan senang hati memanjat pohon yang kira-kira setinggi 5 meter tersebut.

Ini kali berikutnya aku memanjat pohon, setelah lebaran kemarin memanjat pohon kelapa di Kediri. Ngomong-ngomong tentang memanjat pohon kelapa, hanya setahun sekali aku melakukannya. Ya hanya sekali. Kalau dulu belum ada aku, bapak mertua yang melakukannya. Tapi sekarang ganti mantunya.

Kupanjat pohon kelapa. Ambil janur. Turun, persiapan buat ketupat. Kubuat ketupat, dan berikutnya sore harinya sudah tersedia masakan ketupat yang hanya ada di bulan Syawal.

Terima kasih buat semuanya. Orang-orang yang dekat di hatiku. Kenangan yang kuterima sungguh mengesankan. Terima kasih.