Februari 2010

Guru Baca Al Quran di Pondok Al Hikmah


Nama asli beliau Muhammad Yahya. Saat aku sering main ke Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri Kediri, beliau biasa dipanggil Gus Muh.

Aku dan Gus Karim (putra bungsu KH Badrus Sholih) punya cerita tentang Gus Muh. Waktu aku awal-awal SD, Gus Muh sekolah di Aliyah di lingkungan pondok juga. Menjelang siang sepulang dari SD, aku dan Gus Karim mandi di blumbang (kolam ikan) belakang pondok. Tepatnya di sebelah timur makam keluarga pondok sekarang. Saat ini blumbang itu sudah tidak ada. Tiba-tiba Gus Muh sudah di dekat blumbang dan memarahi kami berdua. "Ayo, ndhang mentas!". Kamipun segera mentas. He he he kenangan itu masih membekas hingga sekarang. Maklum, saat itu kami masih anak-anak. Belum bisa perhitungan air bersih atau kotor. Sing penting renang.

Semasa belajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri, aku belajar dari para putra KH Badrus Sholih. Dari Gus Muh aku mendapatkan bagaimana cara membaca Al Quran yang baik dan benar. Kalau ingat waktu itu. Saat belajar Qiro ah. Aku mesti ndak bunyi kalau disuruh baca pakai lagu. Ya... kurang PeDe.

Alhamdulillah... sekarang sudah PeDe. Di Solo beberapa acara memanggilku untuk membaca qiro ah Al Qur'an. Walau tidak sebagus suara guruku Gus Muh, sing penting bacanya benar. Terima kasih Ustadz... semoga menjadi amal jariyah, insya Allah.

Jembatan Mranggen Purwoasri dan Sekitar


Kenanganku dengan desa Purwoasri juga hinggap di sebuah Jembatan yang menghubungkan Purwoasri di utara dengan Mranggen di sebelah selatan. Jembatan ini punya posisi penting tak hanya bagi masyarakat sekitar, tapi juga bagi transportasi antara Surabaya menuju Tulungagung atau sebaliknya. Lebih jauh... di atas jembatan inilah bis antar kota dan juga kendaraan berat melintas.

Yang asyik di masa kecilku saat sudah bisa naik sepeda adalah meluncur dari ketinggian di jembatan tersebut menuju ke utara. Kadang juga menuju ke selatan. Asyik... meluncur sampai jauh di atas sepeda. Enak gitu loh.

Anda juga punya kenangan dengan jembatan ini?

Di utara jembatan bagian barat ada bekas Pabrik Gula di zaman Belanda. Masa kecilku sering main di reruntuhan pabrik tersebut untuk mencari burung dali yang bersarang di salah satu lorong bawah tanahnya. Wih... serem waktu itu. Teman-teman pernah mengajakku untuk masuk lorong itu, terus terang aku kagak berani. Aku pilih di luar saja. Bersuara keras ke arah lorong dan... burung-burung dalam lorong beterbangan keluar.

Kenangan tak terlupa. Bagaimana dengan Anda?